Tegese Adigang, Adigung, Adiguna dan Artinya

5/5 - (63 votes)

Tegese Adigang, Adigung, Adiguna dan Artinya 2024 – Dalam kehidupan ini, kita seringkali mendengar pepatah Jawa yang mengajarkan tentang sifat rendah hati. Salah satu pepatah yang terkenal adalah Adigang, Adigung, Adiguna. Pepatah ini menyiratkan pentingnya memiliki sikap rendah hati dalam bertindak dan berbicara. Tidak hanya sebagai nasihat yang baik, Adigang, Adigung, Adiguna juga mencerminkan makna yang dalam tentang kehidupan.

Tegese Adigang, Adigung, Adiguna dan Artinya
Tegese Adigang, Adigung, Adiguna dan Artinya

Adigang, Adigung, Adiguna memiliki makna yang sangat kuat dalam budaya Jawa. Secara harfiah, Adigang berarti kedudukan tinggi, Adigung berarti kekuasaan, dan Adiguna berarti sifat rendah hati. Ketiga kata ini membentuk satu kesatuan yang mengajarkan tentang pentingnya memiliki sikap rendah hati meskipun telah memiliki kedudukan tinggi dan kekuasaan. Adigang, Adigung, Adiguna merupakan nilai-nilai luhur yang harus dijunjung tinggi dalam kehidupan sehari-hari.

Penjelasan Arti Adigang Adigung Adiguna

Bicara tentang arti dari Adigang, Adigung, dan Adiguna, kita akan mendapati sebuah pesan yang mencerminkan sikap rendah hati dan keinginan untuk tidak menyakiti hati orang lain. Dalam Serat Wulangreh, Sri Sunan Pakubuwana IV mengaitkan Adigang dengan kekuatan yang digambarkan melalui sosok “Kijang”, Adigung dengan kekuasaan yang digambarkan dalam sosok “Gajah (esthi)”, dan Adiguna dengan kepandaian yang digambarkan melalui sosok “Ular”.

Namun, makna dari Adigang, Adigung, dan Adiguna bukan hanya sebatas pengandaian simbolis dalam cerita saja. Lebih dari itu, kata-kata ini juga mengajarkan kita untuk bersikap rendah hati. Mereka memperingatkan kita agar tidak terlalu mengandalkan dan memamerkan kelebihan yang kita miliki. Seperti sifat gajah yang mengandalkan kekuatannya (Adigung), sifat ular yang mengandalkan bisanya (Adigang), dan sifat kijang yang mengandalkan kemampuan melompatnya (Adiguna).

Dalam konteks kehidupan sehari-hari, pesan dari Adigang, Adigung, dan Adiguna juga bisa diartikan sebagai nasihat untuk menjaga sikap rendah hati. Mereka mengingatkan kita agar tidak sombong dan tidak melukai perasaan orang lain dengan ucapan atau tindakan kita. Dengan menghayati pesan ini, kita dapat tumbuh dan berkembang sebagai individu yang rendah hati dalam hubungan dengan sesama.

Jadi, mari kita renungkan makna yang terkandung dalam Adigang, Adigung, dan Adiguna. Jadilah seseorang yang tidak hanya mengandalkan kelebihan diri, tetapi juga merendahkan diri dan menghormati orang lain. Dalam keseharian kita, mari kita menjaga sikap rendah hati dan menghindari sikap sombong yang mirip dengan sifat-sifat hewan dalam kisah tersebut.

Pepatah Jawa Lainnya

Wes gio, tenan banget pepatah Jawa iki ora kalah populer lan bener tenan sarané. Wong Jawa sok arep nggoleki petunjuk lan nasihat saka carita para leluhur sing diterapake nyata ing keseharian. Wes, mari tak urai méning nglampahi pepatah Jawa iki, biar arep nambah wawasan kita sakdurungké.

Baca juga :   Baht Mata Uang Negara Mana?

Pepatah Jawa nomer siji, “Mikul dhuwur mendhem jero”, artiné “Durjana-gé durjana, anak-anaké apa kaki lamun ora perlu.” Maknane, bocah sing penghormatan karo parentahé uga wani ndempong kepurun ortu lan bade nyuwun sahé bocah. Gampangé, bocah sing ngrasa ayem-ayemé, ora nyék nyari mbales manawa akeh parentahé.

Pepatah Jawa nomer loro, “Rukun agawe sentosa, crah agawe bubrah.” Artiné, “Sampeyan wis pada nyoba-nyoba bareng-bareng, kok bisèl suka lan damai. Nanging kalau terus-terusan njukut-naik turuut, nganti ayem-ayemé bubar.” Ngertosé, kudu rukun lan ngarep ning sembarang kanggo bisa nganti tansah damai dalam hidup.

Nah, arep slira nemokaké ngerti modhèlé, “Lamun sira durung wikan alamira pribadi, mara takona marang wong kang wis wikan.” Artiné, “Yen sampeyan isiné ora ngerti ora temenan karo diri sampeyan, sampun bérkah marang wong sing wis ngerti.” Kuwé nganti diarani, yen sampeyan ora ngerti nglakoni carane ning kéné, kudu harusnyé nggoleki wong sing wis ngerti sing ditogelake.

Pepatah Jawa mikaké, “Manunggaling kawula gusti.” Artiné, “Wong wani dadine kawula tresna sang Pangeran, tumindaké sak dampaké Gusti sing paling awasé.” Pepatahé iki njupuk makna sing wong sing ngerti akeh karo Allah utawa nagara énggoné.

Arti dari Pepatah Jawa Lainnya dalam Bahasa Jawa

Ojo adigang adigung adiguna
Ojo adigang adigung adiguna

Niki wae pepatah Jawa sing pertamanya. Ana sapérangané Ning Lawang Séwuyané ing “Mudang kang ngunduh, Mangkana pindho bérkaryya ning oradugha.” Artiné, “Péngaruh sing sampeyan tuju bakal nggantung menyang tindakan sing ora bakal nampa hasil kang énggadé amargi kurang tilem.” Sing pentingé, kon ngunduh-unduh piyambak, ora usah tertib. Dadi, nglakoni tindakan sing nglelmui kudu ditraktir karo sabar lan kebacutan kang lumayan, biar bisa suksés.

Pepatah Jawa nomer sangang lané, “Dhemit ora ndulit, setan ora doyan.” Nguthukaké, “Manungsa kudu mbok ndhèretake klambi seneng-senengé, ora réstui=setan nggoleki amblén nganti nggawa apes.” Maknane, yaiku, gawe doa lan harapan sing apik-apik lan ora sèrèm, orkémené ora ana wong apa-apa sing bisa ngalangi utawa ngluruhi kita.

Lanjutan papat wae, yen arep ditulung. Ngêh ana pepatah 13, “Sabar sareh mesthi bakal pikoleh.” Artiné, “Sing ayem ditiru, tumindaké sabar, uga bade mélu hasile.” Bikin gampang, sasuwéné tindakan sing ora duweni awawan mungguh bisa kasil. Ménéhi sedya tiba-tiba, ora kanthi rada kénthèl-énthèl, kudu sabar lan mawas washakti.

Baca juga :   Bagaimana Cara Optimal Bekerja di Kantor

Wes ambegé nek pepatah 14, “Dhemit ora ndulit, setan ora doyan.” Maksudé, “Suwéné bisa mbujuk cowoku sapa wae, pasrah waras ata kalamun tansah aja liris.” Pepatahé téh ngindikaké, susah yaiku kronika tanpa sosok penolong. Pancen duwé doaké kutunggu, utawa apa wae kang dikeh Pendirateké.

Membandingkan Pepatah Adigang, Adigung, Adiguna dengan Jawa lainnya

 

Ana pisané, pepatah 18 “Dandhang diunekake kuntul, kuntul diunekake dandhang.” Njupuk arepé, “Thingkatan sing sumirah ora sawang nëng anggen-angen énduhaleng wulan, ënggak nguntalé bakal porak-poranda.” Maknanya, sing apik bakal keculing, sing apik éling, énduhalé diturut.

Sing éndluti, pepatah 20, “Ngundhuh wohing pakerti.” Artiné,paling, “Umat manusia kang mbarekelake kahanan ilmiah lan nglebokaki pangerténé iku uga bakal halsapa-sapa.” Maknane, pinter ngapusi, setra dieng dosaté bakal bisa terengane.

  • Mikul dhuwur mendhem jero : Pepatah ini berfokus pada penghormatan anak terhadap orang tua, sementara pepatah Jawa lainnya memiliki makna yang berbeda.
  • Rukun agawe sentosa, crah agawe bubrah : Keduanya memiliki kesamaan dalam menyoroti pentingnya hidup harmonis dan menghindari konflik untuk mencapai kehidupan yang damai.
  • Lamun sira durung wikan alamira pribadi, mara takona marang wong kang wis wikan : Pepatah ini menitikberatkan pada pentingnya memahami diri sendiri dan mencari pengetahuan dari orang yang lebih berpengalaman, memiliki kesamaan dengan beberapa pepatah Jawa lainnya yang menekankan belajar dari yang sudah berpengalaman.
  • Manunggaling kawula gusti : Pepatah ini memiliki makna yang serupa dengan pepatah Jawa lain yang membahas tentang hubungan antara manusia dengan Tuhan atau kekuatan yang lebih tinggi.
  • Manungsa iku kanggonan sipating Pangeran : Pepatah ini menggambarkan bahwa manusia memiliki sifat Tuhan, yang sejalan dengan beberapa pepatah Jawa lainnya yang menekankan sifat-sifat ilahi dalam diri manusia.

Dalam tuturan verbal, Adigang, Adigung, Adiguna mencerminkan keinginan untuk tidak bersikap sombong atau angkuh. Dalam budaya Jawa, tuturan yang rendah hati dan sopan adalah hal yang sangat dihargai. Ketika seseorang menggunakan kata-kata yang santun dan rendah hati, hal itu menunjukkan bahwa orang tersebut memiliki kedewasaan dan kebijaksanaan dalam berbicara. Tuturan yang rendah hati juga menunjukkan sikap menghargai orang lain dan tidak merendahkan mereka.

Adigang, Adigung, Adiguna juga memiliki kaitan yang erat dengan kekuasaan dan kedudukan tinggi. Dalam dunia yang didominasi oleh persaingan dan ambisi untuk mencapai kekuasaan, sifat rendah hati seringkali terabaikan. Namun, Adigang, Adigung, Adiguna mengajarkan bahwa kekuasaan yang sejati bukanlah tentang merendahkan orang lain, melainkan tentang bagaimana kita menggunakan kekuasaan itu untuk kebaikan bersama. Seseorang yang memiliki kedudukan tinggi seharusnya tidak melupakan akar dan jati dirinya, melainkan tetap rendah hati dan menghormati orang lain.

Baca juga :   Perbedaan Iphone Asli dan Palsu Terbaru

Tidak hanya Adigang, Adigung, Adiguna, budaya Jawa juga kaya dengan pepatah-pepatah lain yang memiliki makna serupa. Salah satu pepatah yang terkenal adalah “Sepisaning urip mung mampir ngombe” yang berarti “Hidup ini hanya singgah sebentar”. Pepatah ini mengajarkan kita untuk tidak terlalu ambisius dan sombong dengan apa yang kita miliki, karena pada akhirnya, semua itu hanya sementara. Hidup ini penuh dengan perubahan dan tidak ada yang abadi. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk selalu bersikap rendah hati dan menghargai setiap momen yang kita miliki.

Pentingnya memiliki sifat rendah hati dalam kehidupan tidak bisa diabaikan. Sifat rendah hati membuat kita lebih terbuka terhadap pembelajaran dan pengalaman baru. Dengan rendah hati, kita dapat menerima kritik dan saran dengan lapang dada, tanpa merasa tersinggung atau marah. Rendah hati juga membantu kita untuk menjalin hubungan yang baik dengan orang lain, karena sikap rendah hati membuat orang lain merasa dihargai dan dihormati.

Sebagai contoh, dalam lingkungan kerja, seseorang yang rendah hati cenderung lebih mudah berkolaborasi dengan rekan kerja. Mereka tidak merasa lebih unggul atau menganggap diri mereka sebagai yang paling pintar. Mereka siap mendengarkan pendapat orang lain dan bersedia belajar dari mereka. Hal ini akan membantu tim kerja mencapai hasil yang lebih baik dan memperkuat hubungan antar anggota tim.

Kesimpulan

Selain itu, sifat rendah hati juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, ketika kita berada dalam situasi konflik dengan orang lain, sikap rendah hati dapat membantu kita untuk mencari solusi yang saling menguntungkan. Dengan tidak mempertahankan ego dan sikap angkuh, kita dapat menciptakan ruang untuk dialog dan kerja sama yang konstruktif.

Dalam kesimpulannya, Adigang, Adigung, Adiguna memiliki makna yang dalam tentang pentingnya memiliki sifat rendah hati dalam kehidupan. Pepatah ini mengajarkan kita untuk tidak bersikap sombong atau angkuh, meskipun telah memiliki kedudukan tinggi dan kekuasaan. Pepatah Jawa lainnya juga menguatkan makna ini dengan mengajarkan kita untuk hidup dengan rendah hati dan menghargai setiap momen yang kita miliki. Pentingnya memiliki sifat rendah hati dalam kehidupan tidak bisa diabaikan, karena sifat rendah hati membantu kita untuk belajar, menjalin hubungan yang baik dengan orang lain, dan menciptakan solusi yang saling menguntungkan dalam berbagai situasi.

error: Peringatan: Konten dilindungi !!